https://pekalongan.times.co.id/
Berita

Diancam Amerika Serikat, Kolombia dan Kuba Siap Angkat Senjata

Selasa, 06 Januari 2026 - 07:01
Diancam Amerika Serikat, Kolombia dan Kuba Siap Angkat Senjata Presiden Kolombia Gustavo Petro bersiap angkatan senjata lagi menghadapi Amerika Serikat setelah lama meletakannya (FOTO: Anadolu Agency)

TIMES PEKALONGAN, JAKARTA –  Presiden Kolombia, Gustavo Petro bersiap angkat senjata dan pemimpin Kuba, Diaz-Canel mengirimkan sinyal serupa setelah kedua negara itu diancam akan diserang Amerika Serikat.

Berbicara di dalam pesawat Air Force One, Presiden AS, Donald Trump mengolok Gustavo Petro sebagai orang sakit yang senang membuat kokain. "Kolombia dipimpin orang yang sakit jiwa, dan dia tidak akan berkuasa lama. Operasi Kolombia tampak bagus bagi saya," katanya merujuk setelah operasi di Venezuela.

Donald Trump juga semakin memperluas lingkaran ancamannya kepada negara-negara di Amerika Latin lainnya, bukan hanya kepada Venezuela dan Kolombia, Kuba bahkan Meksiko juga "diincar" akan diperlakukan yang sama dengan Venezuela.

Terhadap Kuba, Donald Trump menyatakan bahwa Kuba adalah "masalah yang pada akhirnya akan ditangani,". Pernyataan itu ditafsirkan oleh para pengamat sebagai penyertaan eksplisit Kuba dalam daftar target politik dan mungkin juga keamanan Amerika Serikat. 

Amerika Serikat, seperti dilansir Al Jazeera, saat ini sedang menggunakan dua pola intervensi paralel di Amerika Latin yakni intervensi militer langsung, seperti di Venezuela, dan intervensi politik melalui tekanan dan pengaruh terhadap pemilih dan rezim penguasa.

Gustavo Petro telah bersumpah akan "mengangkat senjata lagi" sebagai tanggapan atas ancaman Donald Trump itu.

"Saya bersumpah tidak akan pernah menyentuh senjata lagi. Tetapi demi negara, saya akan mengangkat senjata lagi," kata presiden Kolombia itu dalam pesan panjang di platform "X".

Petro menekankan, bahwa kebijakan anti-narkoba yang diterapkan cukup kuat, tetapi menegaskan bahwa ada batasan terhadap tindakan militer.

"Jika para petani dibom, ribuan orang akan bergabung dengan geng bersenjata di pegunungan. Dan jika anda menangkap presiden, yang dicintai dan dihormati oleh sebagian besar rakyat saya, anda akan melepaskan kemarahan terpendam rakyat," tulis Petro.

Presiden Kolombia yang kelompok pemberontak M-19-nya telah meletakkan senjata berdasarkan perjanjian damai tahun 1989 itu, telah terlibat perselisihan dengan Trump sejak kembalinya Trump ke  Gedung Putih sejak Januari 2025.

Gustavo Petro mengkritik keras pengerahan militer AS di Karibia, yang dimulai dengan menargetkan kapal-kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba, sebelum meluas hingga mencakup penyitaan kapal tanker minyak Venezuela, yang berpuncak pada operasi hari Sabtu di ibu kota Venezuela, Caracas, di mana Presiden Nicolas Maduro kemudian ditangkap dan diculik dibawa ke New York.

Petro juga mengutuk melalui platform X, bahwa operasi AS saat "menculik" Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menurutnya "tidak memiliki dasar hukum."

Petro juga menekankan bahwa pemboman AS terhadap ibu kota Amerika Selatan itu adalah aib mengerikan yang tidak akan dilupakan oleh generasi penduduk benua itu.

Ia juga menambahkan, bahwa Amerika Serikat adalah negara pertama di dunia yang mengebom ibu kota di Amerika Selatan itu dalam sejarah manusia, dan mencatat bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat itu  "tidak dilakukan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pemimpin Nazi  Adolf Hitler, diktator Spanyol Francisco Franco, atau mantan Perdana Menteri Portugal Antonio de Oliveira Salazar."

Kuba Menggeliat

Setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, Donald Trump juga menyatakan bahwa Kuba adalah "masalah yang pada akhirnya akan ditangani," berikutnya.

Pernyataan Trump membuat Kuba menggeliat dan pernyataan itu ditafsirkan oleh para pengamat sebagai penyertaan eksplisit Kuba dalam daftar target politik dan mungkin juga keamanan Washington berikutnya.

Karena itu, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, untuk kali pertama merubah sikapnya yang biasa tenang menjadi menyala-nyala dengan berpartisipasi dalam demonstrasi massal untuk mendukung Venezuela, menuntut pembebasan Nicolas Maduro.

Sikap Diaz-Canel itu mencerminkan pergeseran posisi Kuba dari pengekangan diplomatik menjadi konfrontasi retorika secara terang-terangan.

Berbicara dengan nada yang sangat tajam, Diaz-Canel  menekankan kesediaan Kuba untuk mengorbankan "nyawa" demi membela Venezuela dan Kuba, bahkan sampai menyatakan kesediaannya sendiri untuk mengorbankan hidup dan darahnya pada tahap ini.

Pergeseran retorika Kuba ini terjadi setelah Havana mengumumkan kematian 32 warganya saat Amerika Serikat menyerang Venezuela, Sabtu lalu, dan Kuba memutuskan menyatakan masa berkabung resmi. Hal ini juga memperdalam perasaan bahwa perkembangan di Caracas kini secara langsung telah mempengaruhi keamanan nasional Kuba.

Ancaman-ancaman Donald Trump itulah yang kemudian membuat Kolombia dan Kuba merasa sedang menjadi incaran intervensi berikutnya setelah melakukannya pada Venezuela, sehingga keduanya bersiap angkat senjata menyerahkan jiwa raga untuk menghadapi Amerika Serikat. (*)

Pewarta : Widodo Irianto
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Pekalongan just now

Welcome to TIMES Pekalongan

TIMES Pekalongan is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.